Buat saya keajaiban Tuhan terbesar di Dunia ini bukanlah terciptanya alam semesta. Tetapi proses hubungan ibu dan anak. Karena hubungan ini adalah rantai dari sebuah proses kehidupan yang tidak akan pernah selesai, walau dunia ini hancur sekalipun. Dan ayah??? Ikut nimbrung saja dulu sampai saya selesai cerita.
Bapak boleh merasa bangga ketika mampu membesarkan anaknya tanpa istrinya. Saya juga tidak tahu sih… merasa bangga atau merasa lebih seksi bila sukses menjadi single father. Sayangnya, ikatan terbesar seorang anak terjadi bukan dengan ayahnya, tetapi dengan ibunya. Seorang ibu menggunakan insting keibuannya untuk mengajarkan tentang kasih sayang. Kalau seorang ayah? Hmm… ayah saya mengajarkan sepak bola dan catur… hehehe. Agak mellow memang tulisan ini, tetapi kasih sayang ibu walau hanya dicap sekali pada masa persalinan dampaknya panjang sekali. A mother's love is instinctual, unconditional, and forever.
Saya pernah mendengar cerita teman saya yang berbadan tambun dari Jogja. Dia mengajak anak laki-lakinya main ke mall yang ada di kota itu. Salah satu tugas ayah memang mengajak anaknya bersosialisasi ketika anak itu sudah mulai mengenal dunia luar. Ketika pulang, anaknya mengadu pada ibunya, “mah, aku kok tadi di Mall disuruh manggil om sama Ayah.” Ayah memang selalu mempunyai sisi cerita lain dari hubungan ibu dan anak. Ayah mungkin mengajak anaknya untuk berjalan jauh, tetapi anak akan tetap kembali pada buaian ibunya. Walaupun, seorang anak sudah menginjak usia 20 tahun seperti saya, tetap saja ibu adalah tempat saya kembali pulang.
Anak (saya menyebut dalam tulisan ini untuk usia 6 tahun ke bawah) pada umumnya hanya meminta dua hal secara sederhana, dia ingin senang dan dia ingin damai seperti di dalam perut ibunya dulu. Sunyi dan senyap, seperti yang ada hanya dia dan ibu… Apalagi sewaktu tidur di dalam dekapan ibunya, hmm… “This world is just about you and me, mom..” Yah jangankan anak manusia, anak monyet sekalipun akan terlihat damai disetiap tidurnya sambil bermimpi berburu pisang Agung produk andalan pemkot Lumajang.
Cobalah kongkow-kongkow dengan beberapa anak terlantar yang usianya berkisar 5-6 tahun. Liat rongga matanya dalam-dalam dan bayangkan, apa yang dia harapkan dari kehidupannya di pinggir jalan? Yup betul… dia hanya ingin bermain. Dia tidak peduli mengapa ia harus bermain dipinggir jalan, sedangkan anak gedongan lainnya bermain di arena yang lebih cihuy. Dia tidak berpikiran untuk menjadi pejabat suatu saat nanti atau bahkan berpikiran, “hari ini saya boleh di jalan, tapi lihat minggu depan… Saya harus bermain di tempat yang mahal!”
Ketika dia sudah lelah bermain dan begajulan di jalan… lihatlah kembali matanya. Apa yang dia cari? 100% saya yakin bila bisa meminta, dia ingin ibunya yang mampu membasuh lelahnya. Ketika ibu itu tidak ada atau tidak cukup cihuy untuk disandarkan, maka dia akan mencari sekenanya seperti; ayahnya, kakaknya, atau temannya. Kalau masih tidak ada juga, ia mungkin memilih menangis atau terdiam karena lelah sehabis seharian bermain.
Anak yang tidak pernah merasa dekat dengan suatu objek, semisal ibu, mudah menjadi individualis dan berpotensi greedy sewaktu dewasa. Kalau kata ibu saya, “Gayus itu ngga punya ibu..”. Walau terdengar emosional, tapi saya percaya ibu saya ada benarnya. Setidaknya orang seperti Gayus merasa di dunia ini hanya ada dia dan harga dirinya yang hilang. Sangat masuk akal sekali, orang menjadi egois dan kasar, karena ibunya tidak pernah memberikan kasih sayang. Kasih sayang terbesar akan melahirkan sebuah bayangan bahwa dunia ini menjadi indah bila dinikmati bersama-sama. Kasih sayang akan melahirkan maaf, dan maaf akan menghasilkan proses memanusiakan manusia itu sendiri.
Saya teringat beberapa tahun yang lalu ketika saya masih mengurusi puluhan anak kecil di pinggir rel kereta api. Saya sering melihat mata anak-anak kecil itu satu persatu setiap harinya. Mayoritas orang tua mereka adalah pelacur. Saya termasuk dekat dengan orang tua mereka. Saya mengetahui detil perilaku hidup mereka. Dan masalah terbesarnya adalah kurangnya ruang private bagi ibu dan anak agar mampu berkomunikasi secara personal. “saya pengen mas anak saya punya kamar sendiri. Lha gimana, sampe jam 2 malem tempat ini pasti penuh orang lalu lalang.”
Benar! ruang privat lah yang dibutuhkan untuk mengembangkan hubungan ibu dan anak. Terlalu banyaknya distractor dalam hubungan ibu dan anak membuat mereka tidak bisa merasakan bentuk hubungan paling alami yang diciptakan Tuhan. Damai dalam kesunyian membuat hubungan ibu dan anak menjadi berkualitas. Anak bisa ‘mendengar’ apa yang ibu rasakan. Anak bisa merasa sedih dengan sendirinya ketika ibunya merasa sedih. Dan anak bisa merasa senang ketika ibunya senang. Seperti kata pepatah, to a child's ear, "mother" is magic in any language.
Sedikit Ruang Privat
Ada dua alasan mengapa ruang privat sangat penting bagi hubungan ibu dan anak. Pertama, untuk mendekatkan hubungan ibu dan anak melalui indera penciumannya. Dan Kedua, agar anak bisa mempelajari guratan wajah ibunya dengan baik.
Indera penciuman pada awal kelahiran memiliki kemampuan yang extraordinary dengan daya ingat yang sangat amazing. Ketika pertama kali keluar dari rahim ibunya, si anak langsung menggunakan penciumannya untuk mendeteksi lingkungan sekitarnya. Selama tidak ada distractor, bau yang akan dikenang adalah bau ibunya, setidaknya dalam seminggu pertama setelah dia mbrojol.. broll…
Sering terjadi kasus beberapa anak tidak mau menyusui dari puting ibunya. Biasanya karena bau pada tubuh ibunya sudah terkena distractor. Mungkin sebelum berusia sebulan, si bayi yang sedang menyusui mencium bau jengkol yang dimasak oleh tetangga sebelah. Sehingga ketika dia mencium bau jengkol, si bayi langsung terasosiasi pada susu ibunya. Ketika ibunya menyodorkan susu dari putingnya tanpa bau jengkol, si Bayi itu langsung mengasosiasikan bahwa susu itu palsu dan tidak terdaftar di Dinkes kota yang terkait. Berbeda dengan bapaknya yang tetap doyan susu ibu, baik itu bau jengkol atau bau minyak wangi dari Arab.
Kepentingan ruang privat yang kedua adalah memberi kesempatan bagi anak agar lebih bebas mengamati stimulus yang diberikan oleh wajah ibunya. Menerima stimulus yang lebih terbatas (hanya wajah ibunya saja) membuat otaknya mudah untuk bekerja memahami lingkungannya satu per satu. Life began with waking up and loving the mother's face - George Eliot. Inilah sebabnya mengapa anak yang besar tanpa ruang privat seperti panti asuhan biasanya memiliki IQ yang lebih rendah. Karena otaknya dipaksa untuk mencerna banyak wajah dan objek. Apakah kalian akan pernah menjadi pintar bila selalu belajar di tempat yang bising dan banyak binatang berlalu lalang di depan muka anda? Anak-anak kecil juga merasa terganggu dengan hal ini.
“lho tapi kan mereka tidak nangis dan senang-senang saja dikunjungi banyak orang?” kata pemilik panti asuhan yang baru saja kedatangan Aura Kasih, Pasha Ungu, dan artis-artis ibu kota di panti asuhannya… Yo ngga bakal bisa ngomong cuukk!!!
Bagaimana anak bisa mempelajari ekspresi wajah seseorang kalau wajah yang datang itu selalu berganti-ganti dengan frekuensi yang tinggi. Sore datang orang Jogja yang berbahasa alus dengan jarik dan mental ewuh pekewuh nya… Siangnya datang orang Jawa Timur yang bletak bletuk ngomongnya… Dan sewaktu malam, datang bule Inggris yang tinggal di jalan Jaksa dengan suara baritone yang tidak jelas… “Oh yesss… I like it”. “Oh no.. don’t do it.”
Secara penelitian, anak yang dibesarkan oleh banyak orang lebih mudah diculik dibandingkan dengan anak yang memiliki kedekatan dengan ibunya. Karena ibu mengenalkan konsep kehangatan wajah yang dijadikan standart bagi anak untuk menjauhi orang-orang yang beraura jahat. Percaya atau tidak, memang seperti itulah kenyataannya. Mau anak anda diculik? Umbar saja di tengah jalan.. pasti nanti dengan mudah dibawa orang tanpa orang disekitarnya tahu bahwa anak anda sedang diculik…
Kita kembali pada pelacur di pinggir rel. Bila mereka tidak mampu untuk menempatkan anak-anak pada ruang private yang baik, maka dipastikan tidak ada batas ruang antara orang dewasa-anak-anak, laki-perempuan, saudara-teman, dll. Akibatnya adalah anak-anak tumbuh cepat dari waktunya karena terpaksa. Mereka melewati masa bermain dan menghabiskan masa instingnya untuk mengenal kasih sayang ibunya lebih cepat dibandingkan anak-anak normal lainnya. Seperti apa mereka akan tumbuh nantinya? Yah kalian bisa tebak sendiri. Banyak anak-anak dipinggir rel itu sudah paham bahwa pelacur adalah sebuah pekerjaan yang membanggakan. Mereka diajari bahwa lekat pada satu objek ke objek lainnya adalah sebuah budaya yang tidak bisa mereka tolak. Mereka tidak belajar untuk lekat pada satu objek. Mereka tumbuh menjadi geleman, nurutan, dan katutan (mau, nurut, dan ngikut). Etika dan moral? Go to hell.. Yeah!!!
Proses Kelahiran
Pernah kah kalian membayangkan bagaimana proses kelahiran seorang anak? Saya akan mulai dari bagaimana bayi itu mbrojol… soalnya kalau dimulai dari cara membuat bayi, maka tulisan ini akan menjadi tulisan porno. :D
Saya memang menulis dengan naïf proses ibu melahirkan, karena sebenarnya saya tidak pernah melihat wanita melahirkan (ibu hamil mana juga yang mau saya intip). Ketika ibu hamil hendak melahirkan, seharusnya terjadi konstraksi. Akibatnya, listrik di kepala ibu meningkat berlipat-lipat. Yah asal kalian tahu, yang menggerakan otak memang aliran-aliran listrik antar neuron. Semakin besar aliran listrik itu, semakin besar kinerja syaraf-syaraf yang ada di dalam otak. Si Ibu menjadi wanita super dalam beberapa menit. Sistem kerja otak dan kekuatan tubuhnya meningkat hingga 100 kali. Pada saat itu IQ nya sedang naik beberapa point. Mungkin kalau dia sedikit santai, soal matematika sulit pun akan mampu dijawabnya.
Apa yang anda bayangkan bila seorang wanita memiliki kekuatan otak dan fisik 100 kali lebih hebat? Yup… Penciuman, perabaan, dan semua indranya menjadi sangat sensitive. Listrik di dalam kepala memacu keluarnya hormone yang membantu persalinan. Hormone yang keluar secara sporadic ini adalah biang munculnya rasa sentimental yang tinggi. Perasaan sentimental telah membuat meaning tersendiri atas kelahiran bayinya. Inilah yang membuat ibu menjadi semakin sangat lekat dengan anaknya dikemudian hari.
Memory setelah melahirkan akan seperti black hole dalam kepala. Menghisap ingatan apapun disekitarnya. Pada saat itu, di dalam otak seorang ibu masih memiliki sisa energy yang besar pasca melahirkan. Bayangkan saja, kita mengingat dengan long term saja sudah tidak mungkin untuk dihapus, apalagi mengingat dengan kekuatan long term 50 kali lebih besar… Inilah dasar mengapa ikatan ibu akan anaknya selalu ada. Walau setelah dilahirkan anaknya harus diadopsi oleh orang lain, tetap ibu akan selalu mengingatnya. Bagaimanapun bejatnya perilaku anak nantinya seorang ibu selalu berharap anaknya akan kembali. Kalau ada ibu yang tidak memiliki ikatan dengan anaknya, saya pikir ada yang salah dalam hormonnya. Mungkin, dia wanita berhormon lelaki. “Wes metu anakku cuk?” kata ibu aneh yang baru saja melahirkan sambil mencukur bulu kakinya yang tumbuh lebat. HOWEVER, IBU TIDAK PERNAH MEMINTA UNTUK MENCINTAI ANAKNYA… TETAPI TUHAN YANG MEMBERINYA…-Happy mother day