Kemarin,teman saya bercerita panjang lebar tentang kehidupan pernikahan dan perceraian. Padahal dia belum menikah. Kawin uda bolak balik, katanya. Okey, saya percaya itu. Ha!
Awalnya saya tertarik dengan banyaknya perceraian yang terjadi bahkan pada tokoh2 nasional nan terkenal. Sebut saja Aa Gym,Krisdayanti Anang,Maia Dhani, dll. Apa yang terlihat sepertinya tidak mungkin berpisah, ternyata ya kejadian. Entah apa alasannya, bisa beragam tapi menurut saya bisa diselesaikan. Jika memang masih ada komitmen berkeluarga.
Dan nyatanya, di kehidupan nyata, di sekitar saya, juga banyak terjadi yang seperti itu. Banyak yang susah mempertahankan, di badai pertama kehidupan rumah tangga itu. Ada yang ga jelas alasannya, ada yang karena KDRT, ada yang karena orang ketiga, ada yang karena ga segera punya anak, ada yang katanya kurang perhatiin keluarga, ada yang karena sexnya kurang cihuy, dsb. Yang pada dasarnya, banyak alasan menuju perceraian karena hilangnya komitmen.
Nah, si komitmen ini kemana yah?
Pas pacaran awal-awal, semua tuh kerasa menyenangkan. Passionate love, merujuk judul skripsi istri saya #eh. Pokoknya menggebu2lah. Tai kucing berasa toblerone. Eh, semakin kesini, kayaknya mimpi dijemput pangeran berkuda yang romantis uda ga ada deh. Uda companion love. Bukan cinta yang penuh gairah lagi. Jangankan romantis, bangun pagi aja kadang2 musti disiram seember aer. Hehehe. Sarapan juga tinggal minta pembantu. Kopi tinggal teriak ke si bibik. Normal aja semuanya. Biasa-biasa aja. Sampai suatu hari..
"Uda deh! Kalo kayak gini terus, ga ada perubahan, mending kita pisah aja!"
*glek*
"Errr..bisa ga diomongin dulu,masalahnya apa?"
"wes ga usa. Kesuwen. Pokoknya aku mau kita pisah! Titik!"
"titik ato tanda seru?"
"Mas!"
"Dik!"
"Aku serius ini"
"Aku duaa.."
"Stop! Kalo uda ga mau diajak ngomong ya uda! Ga usa ngomong sekalian! Huh!" *ngelewes ngalih*
"Jare maeng kesuwen,ga usa ngobrol..piye to?" *cuman bisa ngedumel*
So?apa masalahnya sebenarnya?
Komitmen.
Pada awalnya, berumah tangga itu berusaha membentuk komitmen. Mencoba berkata iya dan tidak dari satu pikiran. Mencoba mengatasi dan berkompromi dengan perbedaan-perbedaan. Mencoba berkomitmen, "kalo ada masalah kita cari bersama-sama yah solusinya". Tidak ada lagi aku dan kamu, hanya kita. Kedengarannya gampang yah?:)
Nyatanya tidak.
Balik lagi ke sifat dasar manusia, ga ada kata puas. Selalu adaaaa aja id berusaha memenuhi kebutuhannya. Diperparah lagi dengan minimnya komunikasi. Satu-satunya komunikasi hanya di ranjang. Selebihnya cuman chit chat biasa yang biasanya dilakukan lewat device-device canggih kayak "Lagi dimana?", "Uda makan belum?" dan laen-laen yang menurut saya sebenarnya penting, tapi bukan utama. Sama kayak bikin usaha, rencanakan dengan jelas, bikin target, evaluasi kendalanya.
Yang terjadi biasanya adalah, dimabuk cinta di awal pernikahan. Jadi kurang rasional waktu menyikapi segala sesuatunya. Masalah yang ada dianggap angin lalu dan dikompromikan tanpa ada komitmen untuk antisipasi ke depannya. Benernya, pria sudah ditakdirkan menjadi pemimpin. Kepala rumah tangga. Nahkoda perahu layar. Wanita menginginkan posisi yang setara? Bisa saja diterapkan pada beberapa hal. Tapi kebanyakan, wanita juga akan menyerahkan keputusan kepada sang suami. Tapi seringkali, respon suami hanya manggut2 setuju padahal aslinya ga ngerti. Aslinya ga setuju. Tapi demi istri, boleh deh. Lalu virus ini makin lama makin menggerogoti. Lebih dalam dan lebih luas. Tapi masih bergerak di alam bawah sadar. Bisa jadi ada suami yang maen tangan dalam menyelesaikan masalah. Mungkin karena sikap kurang percaya dirinya. Mungkin karena merasa kurang kompeten sebagai suami. Ngasi nafkah kurang ato di ranjang yahud, bisa jadi dengan maen tangan dia ngerasa jadi superior. Ato bisa juga ada istri yang karena tidak betah di rumah, memutuskan mencari kesibukan dan kesenangan di luar. Istri yang ngalami kesulitan waktu untuk mengurus anak lalu memilih pergi bersenang-senang aja sekalian. Apalagi jika ditunjang adanya peer group yang satu visi. Lupakan komitmen, yang penting saya senang! Saya menang! Ato karena tuntutan untuk cari duit banyak, suami kerja keras, cari uang, sukses ujung-ujungnya maen cewe dengan banyak dalih. Ini memang masalah yang banyak dialami di kehidupan modern. Ujung-ujungnya merasa lebih baik berpisah.
Lalu masalah berkembang semakin luas, tanpa disadari masalahnya apa. Banyak kompromi-kompromi baru muncul, yang ujung-ujungnya ga menyelesaikan masalah. Tetep aja cerai. Dan model seperti ini saya jumpai pada bibik di rumah, yang uda kawin cerai 3 kali. Wew! Jangan tanya masalahnya apa. Kalo situ mau dengerin curcolnya si bibik, uda, langsung aja ke rumah, tanyain. Hihihi. Ga tau deh dia uda berkompromi apa aja, tapi dari kuantitas kawin cerai nya, mungkin emang banyak kebutuhannya yang ga terpenuhi.
Dalam kehidupan rumah tangga, pertama kali yang musti dilakuin adalah menetapkan komitmen. Ga cukup hanya modal surat nikah beb! Bicarakanlah semua kemungkinan. Susunlah rencana yang jelas buat hidup bersama karena sudah tidak ada lagi aku dan kamu. Berjalan sebagai kita itu sangat sulit. Kadang, sebagai kita, suami dapat berpikir,"Ah, dia tau kok maksud saya". Demikian pula sebaliknya. Kata seorang kawan,"pahamilah, bukan dibiarkan". Makanya, coba cari tau apa yang jadi kebutuhan pasangan. Dan itu ga gampang.
Terbukalah atas semua masukan. Ketika ada ribut-ribut kecil, selesaikan secara mandiri. Bicara dengan orang lain dan yang tidak tepat malah cuma bikin masalah semakin melebar dan ga menyelesaikan masalah. Biasakanlah bersikap terbuka pada pasangan. Jujur itu penting saat belum bohong. Kalo uda bohong, ketauan, lalu mencoba jujur, itu sama aja kayak menggarami luka. Periiiiiihhhh brooo..
Pertanyaannya adalah, kalo uda cerai, lalu ngaaaaapaaaaiiiin? Kalo setelah cerai lalu hubungan jadi lebih bagus, sama-sama produktif di karir, that's greeeatt. Lha kalo cuma sebagai tameng menyelesaikan masalah, buat apa? Inilah yang seharusnya diamati oleh lembaga hukum yang menangani perceraian. Mediasi yang dilakukan mustinya dilakukan oleh seorang psikolog ahli di bidang konseling pernikahan. Jadi, bukan hanya mediasi abal-abal yang cuma setelah dua kali tahap mediasi, ga ada yang sepakat, akhirnya cerai.
Mungkin sebagian orang menilai tulisan ini munafik. Apakah saya orang yang sukses menata rumah tangga saya? Saya tidak bisa bilang apa-apa, karena kesuksesan rumah tangga ukurannya bukan cuma berhasil melewati tahun-tahun bersama. Tapi pencapaian visi sejak awal, itu yang penting. Maap kalo kemoncolen. Tulisan ini cuma hasil evaluasi hidup saya sendiri dan obrolan mendalam dengan sahabat saya. Tujuannya cuma ngingetin kita semua, apa tujuan menikah. Yang jelas bukan cuma sex. Rite? ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar