Rabu, 05 Oktober 2011

BLACKBIRD


HISTORI

Blackbird sebenarnya mulai berdiri sejak tahun 2010 dan bertempat di Jl. Imam Bonjol pada awalnya. Sekitar akhir tahun 2010, Blackbird memutuskan untuk pindah dan merubah konsep yang semula mengusung konsep coffee and pancakes menjadi beers and grills. Namun, konsep inti Blackbird yang menekankan pada musik, terutama the Beatles, tidak dilupakan. Bahkan, nama Blackbird pun diambil dari judul lagu the Beatles di album double disc album yang biasa dikenal the White Album. Hanya saja, karena bergabung dengan grup Klampist, maka ada beberapa penyesuaian namun tidak mengubah konsep awal. Saat ini, Blackbird berada di Jl. Klampis Jaya 15 Surabaya, di samping Cosmic Joyhouse Surabaya.

KONSEP

Konsep Blackbird ini mengusung tema Beers and Grills dengan menonjolkan menu makanan dibandingkan beverages. Oleh karena itu, beverages yang ditawarkan masih berupa soft drink dan minuman dalam kemasan. Awalnya, konsep tempat ini menggunakan tema the Beatles- yang masuh dipertahankan hingga saat ini- namun ditambahkan dengan lagu-lagu dari genre lain. Tema the Beatles masih dipertahankan dalam nama-nama menu dan atribut-atribut seperti poster di dinding. video dan lagu yang diputar juga masih diselipi dengan lagu-lagu dari the Beatles atau dari solo karir para anggotanya.

Selain itu, di Blackbird sendiri yang ditonjolkan adalah activities dan obrolan akrab dari para pengunjungnya. Untuk ini, kami menerapkan pada ukuran meja, penempatan dan fasilitas yang disediakan. Seperti contohnya, tersedia fasilitas wifi, yang sepertinya sudah menjadi syarat dari eksistensi sebuah kafe. Namun, kami tidak menyediakan fasilitas wifi yang super duper kencang. Biasa saja, agar orang tidak hanya datang, duduk lalu bermaen facebook di laptop.

Di Klampist sendiri, salah satu yang membedakan dengan tempat lainnya adalah adanya mini ramps dan mini skatepark untuk fingerboard. Untuk latihan atau sekedar bermain, tidak ada charge khusus. Bebas aja. Di tempat yang lebih privat seperti ini, dapat dijadikan ajang pembelajaran bagi peminat skateboard ataupun fingerboard.

MENU

Original Burger with tasty meat. added cheese, then you’ll get cheese burger!

Ringo’s Fave. Chicken drumsticks, 4 drumsticks in each portion.

Sun King Bitterballen. Potatos mix with meat. 4 bitterballens in each portion.

Cheesy Sadie. Chicken breasts covered with cheese.

Tuna Burger. served from fresh tuna for non-meat lovers. (soon)

Chicken Burger. made from best chicken breast. (soon)

French Fries.

Wedges.

Lasagna

Klappertaart.

Varian Harga. 10ribu sampai 20ribu.

JAM BUKA

Minggu - Kamis 10 AM - 10 PM

Jumat - Sabtu 12 PM - 12 AM

Penjelasan McCartney tentang lagu Blackbird.

I had been doing poetry readings. I had been doing some in the last year or so because I've got a poetry book out called "Blackbird Singing", and when I would read Blackbird, I would always try and think of some explanation to tell the people, 'cause there's not a lot you can do except just read the poem, you know, you read 10 poems that takes about 10 minutes, almost. It's like, you've got to, just, do a bit more than that. So, I was doing explanations, and I actually just remembered why I'd written Blackbird, you know, that I'd been, I was in Scotland playing on my guitar, and I remembered this whole idea of "you were only waiting for this moment to arise" was about, you know, the black people's struggle in the southern states, and I was using the symbolism of a blackbird. It's not really about a blackbird whose wings are broken, you know, it's a bit more symbolic.

— Paul McCartney, Interview with KCRW's Chris Douridas, May 25, 2002 episode of New Ground (17:50 - 19:00)

Senin, 03 Oktober 2011

Genuine Genius by Bung Kucing

Guru bahasa Inggrisku seorang wanita lanjut usia. Memang saya sengaja milih nenek-nenek, karena kalau Sora Aoi beda lagi ceritanya. Satu hal yang saya ingat, senyumnya lebar sekali. Dan senyum itu selalu mengembang walau saya sering terlambat masuk kelas hingga 1 jam lamanya. Setiap hari kami berbicara ngalor ngidul, hingga akhirnya saya mulai terbiasa untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Halooo? Nah, kali ini saya tidak salah sambung… Karena biasanya banyak orang tidak menangkap apa yang saya inginkan. Guru les itu tahu sekali bahwa saya mencari materi tulisan bukan belajar untuk mengejar Toefl apalagi menjadi skateboarder seperti yang banyak dipikirkan orang.





Skateboard

Saya bukan skateboarder. Apalagi sampai kongkow-kongkow di lapangan hingga dini hari. Buat saya kesenangan bukan berasal dari kemampuan saya meloncati obstacle seperti layaknya cheetah di channel Animal Planet. Hidup indah itu ketika saya bisa berhubungan dengan diri saya sendiri secara intim (baik dengan kondom ataupun tidak). Baca buku, menulis, dan bermimpi. Mimpi saya bukan bermain skateboard dengan ribuan penonton di lapangan atau dengan gitar listrik yang menggerung di atas panggung besar. Mimpi saya sederhana, pengen jadi cenayang (mampu menulis cerita masa depan dari masa lalu hahaha…).

Saya tidak tertarik untuk belajar melakukan sebuah trick dengan papan skateboard, lalu mendengar semua penonton bertepuk tangan. Atau bahkan mencetak seorang juara agar bisa ikut naik ke atas podium dan turun panggung dengan para ABG yang bergelayutan di pundak seperti monyet dari Tanah Lot. Buat saya, skateboard seperti motor besar, skuter, dan mobil antik. Mereka mempunyai brand yang dikultuskan, seperti Independent, Harley Davidson, Vespa, Volkswagen, dll. Sebuah produk dengan ruh yang mampu membuat definisi budayanya sendiri. Sebuah brand yang akan didemo pecintanya bila ditutup karena pailit. Perkara dalam produk itu ada groupies ABG, uang, dan nama besar, saya tidak peduli.

Di jaman edan ini, skateboard hingga warung kopi sudah dirubah menjadi industry besar. Selalu ada pencitraan dan simbolisasi dibalik geliat bisnis. Semakin modern jaman, semakin gila pencitraannya. Tony Hawk dan Tony Alva adalah contoh hara-kiri pencitraan yang membuat skateboard laku layaknya kacang goreng. Tony Hawk atlet yang bisa membuat saya melongo sambil meneteskan air liur, tes, tes, ketes, ketes... Bayangkan, manusia bisa berputar-putar seperti gasing. Dan Tony alva adalah skateboarder yang bergaya seperti layaknya anak-anak alay… Seperti kata Jay Adams, “Alva try to compete with the sun to be the center of universe.” Alay sekali memang Tony Alva itu. Bahkan kalau kamu cermati secara etimologi… kata alay itu berasal dari Alva. Karena sewaktu acara Dahsyat di RCTI, Jay Adams memanggilnya “Hi, Tony Alay…” Dari situlah muncul istilah Alay. Biarlah, itu semua bagian dari industry entertainment. Ada atraksi dan ada pencitraan yang semuanya terangkum dalam sebuah sensasi.

Terus terang saja, saya menyukai skateboard, tapi tidak industrinya. Walaupun saya memiliki beberapa riders, saya tidak menjual produk seperti independent atau brand lain yang sangat loyal dengan budaya skateboard. Dan perusahaan saya bukanlah perusahaan cultural maker. Jadi, karena itulah, saya harus bekerja keras untuk melahirkan Skateboarder handal. Fungsinya buat apa? Hmmm… nanti saya kasih tau…

Banyak orang yang mengira bahwa saya berobsesi untuk menjadikan riders saya nomer satu sebagai jalan mengejar ketenaran dan uang. Untungnya tidak ada yang berpikir saya mengejar kepuasan seksual melalui riders-riders saya hahaha… Banyak orang yang berpikir bahwa saya mencintai Harley karena ingin mencari sensasi. Mungkin banyak juga orang yang berpikir saya memiliki beberapa gitar agar mampu bergaul dengan para musisi. Biarkan saja orang mikir apa, jawaban singkat saya... Tidak!





Menulis

Saya memang senang menulis semenjak beberapa tahun yang lalu. Ada satu ganjalan dalam kepala saya hingga saya harus melakukan banyak hal di luar menulis. Materi yang hendak ditulis menjadi sangat begitu penting buat saya. Dengan mohon maaf saya bercerita mengenai dua majalah yang sempat menjadi trend di kalangan anak muda untuk menjelaskan hal ini.

Buat saya, Hai adalah majalah yang sangat bagus di jamannya. Kalau tidak salah, Denny Sakrie yang membuat Hai semakin menjadi digilai dengan Haiklip nya. Ditambah dengan Hilman Hariwijaya dengan Lupusnya, Hai menjadi majalah juara WBA, WBC, dan IBF di dunia pergaulan.

Majalah kedua adalah Ripple. Menurut saya majalah indie ini adalah majalah dengan content yang fresh. Tulisannya pun bagus. Saya mengikuti majalah Ripple mulai edisi pertama hingga kini berubah menjadi majalah Tempo, tempo-tempo terbit tempo-tempo tidak. Banyak orang yang menyayangkannya. Tetapi, saya tidak menyayangkannya, karena bukan terbitnya Ripple yang jadi masalah utamanya.

Sebenarnya banyak sekali majalah yang mengalami hal sama seperti dua majalah itu. Satu yang saya garis bawahi, media kehilangan materi bagus untuk ditulis. Ripple melahirkan wartawan bagus dan idealis? Buat saya tidak… wartawan mereka bagus karena lahir dengan sejuta materi yang bagus pula dilingkungannya. Saya berani taruhan, bila seluruh wartawan Hai dan Ripple berkumpul menyatukan jumlah bacaan, jumlahnya tidak akan lebih dari bacaan yang saya punya (Intermezzo: tolong jangan pernah tanya saya, pernah baca ini atau nonton itu… saya lupa Cuk!! Iya klo bacaannya puluhan). Ini bukan masalah siapa yang banyak membaca sebenarnya, tetapi kenyataannya referensi bahasa terbesar memang didapat dari kebiasaan orang membaca.

Jadi menurut saya, kedua majalah itu turun kelas karena memang tidak ada lagi materi bagus untuk diulas. Semuanya sekarang bersifat instan dan tidak layak tulis. Ibaratnya, kalau yang masuk untuk diproses adalah sampah, yang keluar juga kemungkinan besar murahan. Buat apa orang membaca Haiklip sekarang bila kita bisa buka internet. Dan apa Denny sakrie mau mencari tahu tentang Sting atau Oasis via internet? Ngapainnn?? Kecuali dia memang hanya iseng mau mengadu kekuatan bandwidth internet sama anak-anak lulusan Binus sambil browsing tentang Metallica atau The Clash… haha… Dan sekarang pun Denny Sakrie sering masuk infotaiment untuk menjelaskan gejala Ayu Ting Ting hingga Shinta dan Jojo dalam acara yang kurang cerdas sama sekali.

Mau menulis seperti apa majalah Ripple, kalau anak mudanya sudah sibuk menghitung uang. Apa bagusnya majalah Ripple yang menulis tentang anak-anak muda yang sibuk duduk dipojok sambil menghitung untung. Mau menulis tentang pengusaha clothing indie yang bingung hendak membeli mobil apa tahun ini? Tulisan seperti itu hanya menginspirasi generasi berikutnya menjadi anak yang ingin kaya walau harus membunuh bakat terbaiknya. Sudah tidak ada lagi cerita tentang anak band yang berusaha dari bawah. Semua band indie kini berkembang melalui jalur festival. Tidak ada Feature tentang band yang manggung dari kota-ke kota menggunakan bis Damri. Mobil papa sekarang bisa dipakai.

Sedikit cerita saja… saya pernah disarankan untuk menulis tentang band metal lawas di Surabaya. Dan ketika interview berjalan, mereka pun memiliki gaya hidup yang biasa. Bekerja di pabrik Teh Botol atau sebagian lainnya mengajar gitar secara privat. Mereka hanya bermain band untuk menambah pemasukan dapur saja. Dalam otak saya… saya bodoh bila menulis ini. Tulisan tentang mereka akan bagus bila saya harus berbohong, itu solusinya. Akhirnya saya sadar betapa pentingnya kualitas materi.

Sebagai ilustrasi lagi. Belum lama ini saya membaca tulisan Romo Sindhunata, salah satu Romo terpintar dengan tulisan terbaik di Indonesia. Saya tercengang karena dia mengulas film Legion. Sebuah kisah tentang malaikat yang turun ke bumi. Menurut saya film itu sangat buruk sekali. Dan mohon maaf, tulisan Sindhunata akhir-akhir ini memang turun kualitasnya di mata saya. Sekali lagi saya tekankan bukan karena berkurangnya kehebatan Sindhunata, tetapi memang tidak ada film bagus yang layak dikutip. Mungkin dengan keterpaksaan, Romo Sindhu tidak mempunyai pilihan untuk mengulas film yang baik. Materi murahan memang sulit untuk dirubah menjadi mahal meskipun di tangan seorang Romo Sindhu.







Ngapain Main Skate

Beberapa tahun silam, saya mulai menyadari masalah ini. Kapitalis banyak membunuh asset untuk diperdagangkan. Semua menjadi instan hingga tidak layak untuk ditulis. Saya hanya berharap generasi berikutnya tidak terjebak dalam kumpulan sampah. Kita bersama-sama harus tetap mencari genuine-genuine jenius di bidangnya. Bukan untuk kita gagahi, tapi untuk kita tulis dalam kertas putih, catatan komputer, ataupun sekedar tercatat di dalam kepala saja.

Kegelisahan itu yang membuat saya mulai bergerak untuk menciptakan cerita dan moment bagus versi saya sendiri. Saya mulai mengurangi waktu untuk menulis. Saya mendorong anak muda untuk bermain music, bukan untuk memajukan dunia music. Saya mempunyai team skateboard bukan untuk menjadi terkenal. Saya mempunyai record pengemis dan budaya masyarakat miskin bukan karena saya ingin dipanggil professor. Itu semua hanya untuk menambah catatan materi tulisan saya. Saya mempunyai catatan tentang skateboarder pertama Surabaya yang menjadi amatir, saya mempunyai catatan tumbuh kembangnya komunitas fingerboard, hingga saya mempunyai catatan gaji para pengemis ‘profesional’ di Indonesia yang mempunyai Indomart dan rumah mewah. Tetapi itu semua masih belum lengkap. Pembaca tetap menunggu hadirnya tokoh superhero seperti Jay Adams, Van Gogh, anak-anak Hell Angel, dll. Yang mempertegas arti dedikasi di dalam tulisan saya.

Saya berharap suatu saat muncul orang jenius seperti Van Gogh yang layak ditulis, cerita tentang Hell Angel, atau kisah perjalan klasik dari para pecinta Volkwagen. Walau sejuta tawaran menggoda untuk memodifikasi dan merubah apa yang mereka cintai, tetap saja mereka mencintai bidangnya. Konsistensi yang membuat mereka selalu layak direkam dari waktu ke waktu. Lihat saja berapa banyak buku yang tertulis untuk Hell Angels dan Harleynya, atau coba datang ke Gramedia dan toko-toko buku import. Berapa banyak buku tentang VW? Walaupun memiliki Audi versi terbaru di garasi atau motor metik di dalam rumah, tetap saja si Genuine jenius tidak terlalu larut dalam godaan kapitalis yang semakin rakus. Mereka hanya butuh sedikit ruang untuk bernafas dan menggurat sejarah walaupun tidak harus terkenal. Mungkin hanya melakukan touring keliling Jawa tanpa pengawal atau menunggu musim kemarau agar kolam bisa berubah menjadi bowl… Itu cerita jujur tentang hasrat seseorang atas budaya.

Inilah yang membuat saya tidak tergoda untuk terlibat dalam perkumpulan anak Harley yang dendis, atau perkumpulan anak skateboard yang ‘keberatan’ merek pakaian. Apalagi penulis instant yang sibuk nongkrong di warung kopi KW bermerek Starbak. Menurut saya mereka tidak layak direkam. Karena saya percaya bahwa semua yang diproduksi secara instan hanya bersifat sementara.

Nah menjawab pertanyaan mengapa saya membuat team skateboard? Jawabanya, saya hanya mendorong riders saya untuk menang agar mereka dilirik oleh perusahaan luar. Kita berbicara masalah industry dan uang. Saya ingin teman-teman saya maju dan dihargai secara finansial. Itulah industry. Saya hanya ingin riders saya diurus oleh orang yang mampu. Karena dengan eksisnya para skateboarder di bidang industry, mungkin suatu saat, Jay Adams yang saya tunggu-tunggu akan datang dengan sendirinya untuk melengkapi materi tulisan saya. Karena itulah saya membuat team... Hanya berharap untuk materi tulisan yang lebih baik di masa depan. Kalau kalian bialng naif, terserah... yang jelas saya bukan David.