Minggu, 26 Mei 2013

Wisata Waisak

Perayaan waisak emang sesuatu yang sakral. Bagi umat Budha, perayaan ini merupakan suatu momen damai dan indah yang menghubungkan dirinya dengan Tuhan. Dan akhirnya, Prosesi ibadah yang dilakukan di Candi Borobudur (dan beberapa tempat peribadatan lainnya) ini menjadi suatu produk wisata yang tidak ingin dilewatkan oleh para traveler. Hal ini menyebabkan Candi Borobudur tersebut kemarin menjadi penuh sesak oleh wisatawan lokal dan manca negara yang ingin mengabadikan momen kedamaian perayaan waisak tersebut.
Akan tetapi, tidak banyak orang yang bisa menghargai ibadah yang dilakukan umat Budha tersebut. Seperti foto di bawah ini, yang menunjukkan upaya fotografer yang sampai naik-naik untuk memperoleh angle yang pas buat mengambil gambar umat Budha yang sedang berdoa. Penghargaan yang diberikan kurang, sehingga berpakaian pun hanya apa adanya. Selain itu, banyak riuh traveler lain yang malah becandain doa yang sedang dipanjatkan. Dan kalau seandainya ada yang patut dipersalahkan, maka yang mungkin paling layak adalah social network, apapun bentuknya. 
Iya, muasal semuanya ini dari kebutuhan manusia atas eksistensi. Pengakuan. Hal ini menyebabkan manusia jadi tidak bisa menikmati keindahan dan merasa segala sesuatunya harus diabadikan. Ujungnya adalah pengakuan dari orang lain. Retweetan dari teman-temannya. Like di instagram. Love di path. Repath. Dsb. Hal ini banyak kok dijumpai. Jangankan orang ibadah, lawong nonton konser aja masih ada yang dengan tololnya ngerekam seluruh konser dengan iPad yang tertancap di power bank. Duh.
Well, tapi hal ini bukan berarti harus melarang wisatawan untuk datang ke Candi Borobudur di perayaan Waisak tahun depan. Itu nantinya jadi sama kayak himbauan walikota untuk menutup distribusi bir di bulan puasa (dulu lebih konyol lagi sih dengan ga bolehin bioskop buka). Perayaan waisak ini mau ga mau memang harus diakui dapat mendatangkan keuntungan buat banyak kalangan. Pemda jelas-jelas dapat memperoleh rupiah buat membangun kotanya. Penduduk sekitar dagangannya laris manis (termasuk abon lele di depan panti asuhan agak ke atas). Dan juga donasi untuk pengelola candi Borobudur yang bisa dimanfaatkan untuk perawatan Candi Borobudur. Jadi, sebenarnya ini bisa menguntungkan, asal ada edukasi yang jelas terutama dari umat Budha dan pengelola Candi Borobudur melalui aturan-aturan yang perlu ditegaskan seperti kapan saat yang tepat buat ambil foto, jarak ngambil foto, cara berpakaian dll. Belum lagi sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Lalu ada yang minta refund donasi karena lampion yang batal. Ah, bisa lebih banyak lagi masalahnya :)
Eniwei, saya juga belum pernah liat perayaan waisak ini sih :) tapi berusaha berempati pada semua pihak.

Pic from @gendisprimon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar