Selasa, 27 Desember 2011

Money is not real




Kali ini saya pengen nulis setelah nonton film Blow yang dibintangi Johny Deep dan Penelope Cruz. Film yang bercerita tentang drugs dealer, George Jung.
Plot awal dibuka dengan kehidupan George kecil, yang awalnya begitu menyenangkan. Hingga akhirnya, ayahnya musti menghadapi kenyataan kalo dia bangkrut. "Money is not everything", kata si ayah.
Menginjak dewasa, George mulai terlibat dengan drugs. Tentu saja bukan drugs model bodrex ato obat sakit perut yah. Plis deh. Yang hebat dari George ini adalah, ia berhasil membangun bisnisnya dari bawah hingga dapet $ 100,000,000! Angka yang sangat wahhh. Dia bisa jeli ngeliat kesempatan dan bangun networking serta melakukan maintenance terhadap networking tersebut. Dia memulai bisnisnya dari nitip cocaine ke temen pramugarinya, sampe akhirnya bisa nyewa pesawat sendiri dan nerbangkan langsung dari Kolombia. Edian ini. Dan semuanya dibangun dari nol. Bahkan sampe jadi orang kepercayaannya Pablo Escobar as Top US importer. Haram? Ndak nguruslah dia. Apa yang dikorbanin? Banyak. Yang didapet? Ga kalah banyak. Mobil mewah, rumah mewah, istri semlohay dll. Sopo sing ora gelem?:))
"Are you happy, George?" tanya ayah George.
" I'm happy dad"
"I know what your job,George. Not in details, but I know. As long as you happy, I will stay out from your business"
"ok dad"
Bahkan ayahnya masih bisa bilang gitu meskipun tau anaknya bisnis apa.
Dalam perjalanan bisnisnya, George punya temen bernama Diego, yang ngenalin George ke Escobar dan juga ke istrinya George, Mirtha. Teman baik. Tapi, gara2 si teman ini ngguacor ae cocote minta nama suppliernya George di California, pas lagi transaksi drugs ama orang, George sampe kena tembak.
Ga berapa lama, George punya anak dari istrinya si Mirtha Jung. Pas babaran bojone, si George kena serangan jantung. Dokter bilang,"you have to stop it (makai cocaine). You have to stay alive. You have a daughter now". Dan George bener2 nurutin. Dia ga make lagi, dan mutusin buat keluar dari bisnis ini. Demi anaknya, Kristhina Sunshine Jung.
Di ulang taunnya yang ke 38, Mirtha mengorganize ultahnya. Mirtha ngundang temen2 lama, termasuk bandar2 gede dan supplier. Ternyata, itu cuman jebakan. George akhirnya ditangkap FBI. Ga berapa lama, George dibebaskan dengan jaminan. Tapi dia tetap jadi tertuduh yang kudu ikut sidang. Ga berapa lama, dia mampir rumah orang tuanya. Mamanya ga mau nemuin, Ayahnya akhirnya ngobrol sama si George ini.
Lalu si George melarikan diri sama istri dan anaknya. Buat bikin dapur ngebul, dia mau mindahin duit di banknya di Panama, ke bank UOB bedebah cabang terdekat. Wes pokoke Bank lah. Tapi sialnya, ternyata duit di Bank tersebut di potong buat bayar kartu kredit. Hahahaha. Ndak ndak gitu ceritanya. Duitnya disita pemerintah. Semua. Bersih.
Pulang ke rumah, ribut ama si mirtha tadi. "Terus katene urip nggawe duit gambar gajah terbang tah?" " yo ndak gitu juga lah. Aku isok kok nggolek kerjo liyo." demikian kira2 keributan dalam rumah tangganya. Ujung-ujungnya, mirtha ngelaporin George ke polisi lokal. Dan dihukum penjara selama beberapa tahun. Seminggu sebelum masa pembebasan, Mirtha nyambangi. Cuman bilang,"iku aku kate cerai. Hak asuk anakmu di aku", lalu ternyata anaknya juga jadi benci George karena dianggap ga nepatin janji. Janji kalo dia ga bisa hidup tanpa belahan hatinya. Yo ngamuklah si George ini la wong anaknya jadi benci dia. Akhirnya si Goerge - setelah bebas- dateng ke anaknya, berusaha ndeketin lagi,sampe akhirnya anaknya setuju buat ke California ama George, dijemput hari Kamis pulang sekolah.
Nah, buat ke California itu,tinggal disana, George butuh duit. Akhirnya dia transaksi sama temen2 lamanya. Ternyata dia dijebak. Semua teman2 lamanya 'menjual' dia ke FBI, biar bebas. Dan itulah akhirnya. Dipenjara selama 60th. Dan hingga film ini selese dibuat, anaknya belum pernah sekalipun jenguk dia.
Money is not everything. Money is not real. Money is not the important things.
So, what is 'real'?
Family
Anak, istri, suami, orang tua, kakak, adik, itu yang nyata. Orang2 yang mencintai anda sepenuhnya, atau bahkan yang sampai mau ngelakuin apa saja asal anda sehat,selamat atau terbebas dari kesusahan. Itu yang nyata.

Friends.
Apa yang dibutuhkan dari teman? Cuman sekedar tempat curhat karena ga payu2? Ato tempat utang2an? Haha.. Carilah kawan, yang benar2 bisa menghargai anda. Bedakan kawan in personal dan kawan berbisnis. Banyak kan ungkapan,"Nothing's personal. It's just business". Nah, berbisnislah dengan orang, tapi ingatlah. Mereka bukan kawan. Kawan tidak akan membunuh sahabat terbaiknya demi angka. Ketika kawan bisnis sudah menjadi kawan, saatnya anda berhenti berbisnis. Karena saat itu juga, anda akan mulai melupakan uang, dan mau melakukan apa saja asal kawan anda tidak kesusahan. Tapi kalo kawan anda masih pake sudut pandang bisnis, ya nasib anda ga jauh2 deh dari si George Jung tadi. Yang sampe dijual temen2nya ke FBI.

Lupakan kondisi utopis, this is the real life. Real deal, Real jungle. Money is not real, yes. Kejar aja duit itu sebanyak2nya. Then tell me, are you happy?



Quotes
"Yeah,there's your place asshole. Under George's shoes", kata ayah George ke FBI yang nangkep George terus mbantu ngiket tali sepatunya George.
"I dont care anymore..I had broke my promise", kata George pada saat ditangkap terakhir kalinya, yang pada akhirnya dia jadi ga bisa jemput anaknya buat ikut ke California.

Selasa, 06 Desember 2011

IBU TIDAK PERNAH MEMINTA UNTUK MENCINTAI ANAKNYA..TUHAN YANG MEMBERINYA..(SELAMAT HARI IBU :D) by Bung Kucing

Buat saya keajaiban Tuhan terbesar di Dunia ini bukanlah terciptanya alam semesta. Tetapi proses hubungan ibu dan anak. Karena hubungan ini adalah rantai dari sebuah proses kehidupan yang tidak akan pernah selesai, walau dunia ini hancur sekalipun. Dan ayah??? Ikut nimbrung saja dulu sampai saya selesai cerita.

Bapak boleh merasa bangga ketika mampu membesarkan anaknya tanpa istrinya. Saya juga tidak tahu sih… merasa bangga atau merasa lebih seksi bila sukses menjadi single father. Sayangnya, ikatan terbesar seorang anak terjadi bukan dengan ayahnya, tetapi dengan ibunya. Seorang ibu menggunakan insting keibuannya untuk mengajarkan tentang kasih sayang. Kalau seorang ayah? Hmm… ayah saya mengajarkan sepak bola dan catur… hehehe. Agak mellow memang tulisan ini, tetapi kasih sayang ibu walau hanya dicap sekali pada masa persalinan dampaknya panjang sekali. A mother's love is instinctual, unconditional, and forever.

Saya pernah mendengar cerita teman saya yang berbadan tambun dari Jogja. Dia mengajak anak laki-lakinya main ke mall yang ada di kota itu. Salah satu tugas ayah memang mengajak anaknya bersosialisasi ketika anak itu sudah mulai mengenal dunia luar. Ketika pulang, anaknya mengadu pada ibunya, “mah, aku kok tadi di Mall disuruh manggil om sama Ayah.” Ayah memang selalu mempunyai sisi cerita lain dari hubungan ibu dan anak. Ayah mungkin mengajak anaknya untuk berjalan jauh, tetapi anak akan tetap kembali pada buaian ibunya. Walaupun, seorang anak sudah menginjak usia 20 tahun seperti saya, tetap saja ibu adalah tempat saya kembali pulang.

Anak (saya menyebut dalam tulisan ini untuk usia 6 tahun ke bawah) pada umumnya hanya meminta dua hal secara sederhana, dia ingin senang dan dia ingin damai seperti di dalam perut ibunya dulu. Sunyi dan senyap, seperti yang ada hanya dia dan ibu… Apalagi sewaktu tidur di dalam dekapan ibunya, hmm… “This world is just about you and me, mom..” Yah jangankan anak manusia, anak monyet sekalipun akan terlihat damai disetiap tidurnya sambil bermimpi berburu pisang Agung produk andalan pemkot Lumajang.

Cobalah kongkow-kongkow dengan beberapa anak terlantar yang usianya berkisar 5-6 tahun. Liat rongga matanya dalam-dalam dan bayangkan, apa yang dia harapkan dari kehidupannya di pinggir jalan? Yup betul… dia hanya ingin bermain. Dia tidak peduli mengapa ia harus bermain dipinggir jalan, sedangkan anak gedongan lainnya bermain di arena yang lebih cihuy. Dia tidak berpikiran untuk menjadi pejabat suatu saat nanti atau bahkan berpikiran, “hari ini saya boleh di jalan, tapi lihat minggu depan… Saya harus bermain di tempat yang mahal!”

Ketika dia sudah lelah bermain dan begajulan di jalan… lihatlah kembali matanya. Apa yang dia cari? 100% saya yakin bila bisa meminta, dia ingin ibunya yang mampu membasuh lelahnya. Ketika ibu itu tidak ada atau tidak cukup cihuy untuk disandarkan, maka dia akan mencari sekenanya seperti; ayahnya, kakaknya, atau temannya. Kalau masih tidak ada juga, ia mungkin memilih menangis atau terdiam karena lelah sehabis seharian bermain.

Anak yang tidak pernah merasa dekat dengan suatu objek, semisal ibu, mudah menjadi individualis dan berpotensi greedy sewaktu dewasa. Kalau kata ibu saya, “Gayus itu ngga punya ibu..”. Walau terdengar emosional, tapi saya percaya ibu saya ada benarnya. Setidaknya orang seperti Gayus merasa di dunia ini hanya ada dia dan harga dirinya yang hilang. Sangat masuk akal sekali, orang menjadi egois dan kasar, karena ibunya tidak pernah memberikan kasih sayang. Kasih sayang terbesar akan melahirkan sebuah bayangan bahwa dunia ini menjadi indah bila dinikmati bersama-sama. Kasih sayang akan melahirkan maaf, dan maaf akan menghasilkan proses memanusiakan manusia itu sendiri.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu ketika saya masih mengurusi puluhan anak kecil di pinggir rel kereta api. Saya sering melihat mata anak-anak kecil itu satu persatu setiap harinya. Mayoritas orang tua mereka adalah pelacur. Saya termasuk dekat dengan orang tua mereka. Saya mengetahui detil perilaku hidup mereka. Dan masalah terbesarnya adalah kurangnya ruang private bagi ibu dan anak agar mampu berkomunikasi secara personal. “saya pengen mas anak saya punya kamar sendiri. Lha gimana, sampe jam 2 malem tempat ini pasti penuh orang lalu lalang.”

Benar! ruang privat lah yang dibutuhkan untuk mengembangkan hubungan ibu dan anak. Terlalu banyaknya distractor dalam hubungan ibu dan anak membuat mereka tidak bisa merasakan bentuk hubungan paling alami yang diciptakan Tuhan. Damai dalam kesunyian membuat hubungan ibu dan anak menjadi berkualitas. Anak bisa ‘mendengar’ apa yang ibu rasakan. Anak bisa merasa sedih dengan sendirinya ketika ibunya merasa sedih. Dan anak bisa merasa senang ketika ibunya senang. Seperti kata pepatah, to a child's ear, "mother" is magic in any language.

Sedikit Ruang Privat
Ada dua alasan mengapa ruang privat sangat penting bagi hubungan ibu dan anak. Pertama, untuk mendekatkan hubungan ibu dan anak melalui indera penciumannya. Dan Kedua, agar anak bisa mempelajari guratan wajah ibunya dengan baik.

Indera penciuman pada awal kelahiran memiliki kemampuan yang extraordinary dengan daya ingat yang sangat amazing. Ketika pertama kali keluar dari rahim ibunya, si anak langsung menggunakan penciumannya untuk mendeteksi lingkungan sekitarnya. Selama tidak ada distractor, bau yang akan dikenang adalah bau ibunya, setidaknya dalam seminggu pertama setelah dia mbrojol.. broll…

Sering terjadi kasus beberapa anak tidak mau menyusui dari puting ibunya. Biasanya karena bau pada tubuh ibunya sudah terkena distractor. Mungkin sebelum berusia sebulan, si bayi yang sedang menyusui mencium bau jengkol yang dimasak oleh tetangga sebelah. Sehingga ketika dia mencium bau jengkol, si bayi langsung terasosiasi pada susu ibunya. Ketika ibunya menyodorkan susu dari putingnya tanpa bau jengkol, si Bayi itu langsung mengasosiasikan bahwa susu itu palsu dan tidak terdaftar di Dinkes kota yang terkait. Berbeda dengan bapaknya yang tetap doyan susu ibu, baik itu bau jengkol atau bau minyak wangi dari Arab.

Kepentingan ruang privat yang kedua adalah memberi kesempatan bagi anak agar lebih bebas mengamati stimulus yang diberikan oleh wajah ibunya. Menerima stimulus yang lebih terbatas (hanya wajah ibunya saja) membuat otaknya mudah untuk bekerja memahami lingkungannya satu per satu. Life began with waking up and loving the mother's face - George Eliot. Inilah sebabnya mengapa anak yang besar tanpa ruang privat seperti panti asuhan biasanya memiliki IQ yang lebih rendah. Karena otaknya dipaksa untuk mencerna banyak wajah dan objek. Apakah kalian akan pernah menjadi pintar bila selalu belajar di tempat yang bising dan banyak binatang berlalu lalang di depan muka anda? Anak-anak kecil juga merasa terganggu dengan hal ini.

“lho tapi kan mereka tidak nangis dan senang-senang saja dikunjungi banyak orang?” kata pemilik panti asuhan yang baru saja kedatangan Aura Kasih, Pasha Ungu, dan artis-artis ibu kota di panti asuhannya… Yo ngga bakal bisa ngomong cuukk!!!

Bagaimana anak bisa mempelajari ekspresi wajah seseorang kalau wajah yang datang itu selalu berganti-ganti dengan frekuensi yang tinggi. Sore datang orang Jogja yang berbahasa alus dengan jarik dan mental ewuh pekewuh nya… Siangnya datang orang Jawa Timur yang bletak bletuk ngomongnya… Dan sewaktu malam, datang bule Inggris yang tinggal di jalan Jaksa dengan suara baritone yang tidak jelas… “Oh yesss… I like it”. “Oh no.. don’t do it.”

Secara penelitian, anak yang dibesarkan oleh banyak orang lebih mudah diculik dibandingkan dengan anak yang memiliki kedekatan dengan ibunya. Karena ibu mengenalkan konsep kehangatan wajah yang dijadikan standart bagi anak untuk menjauhi orang-orang yang beraura jahat. Percaya atau tidak, memang seperti itulah kenyataannya. Mau anak anda diculik? Umbar saja di tengah jalan.. pasti nanti dengan mudah dibawa orang tanpa orang disekitarnya tahu bahwa anak anda sedang diculik…

Kita kembali pada pelacur di pinggir rel. Bila mereka tidak mampu untuk menempatkan anak-anak pada ruang private yang baik, maka dipastikan tidak ada batas ruang antara orang dewasa-anak-anak, laki-perempuan, saudara-teman, dll. Akibatnya adalah anak-anak tumbuh cepat dari waktunya karena terpaksa. Mereka melewati masa bermain dan menghabiskan masa instingnya untuk mengenal kasih sayang ibunya lebih cepat dibandingkan anak-anak normal lainnya. Seperti apa mereka akan tumbuh nantinya? Yah kalian bisa tebak sendiri. Banyak anak-anak dipinggir rel itu sudah paham bahwa pelacur adalah sebuah pekerjaan yang membanggakan. Mereka diajari bahwa lekat pada satu objek ke objek lainnya adalah sebuah budaya yang tidak bisa mereka tolak. Mereka tidak belajar untuk lekat pada satu objek. Mereka tumbuh menjadi geleman, nurutan, dan katutan (mau, nurut, dan ngikut). Etika dan moral? Go to hell.. Yeah!!!

Proses Kelahiran
Pernah kah kalian membayangkan bagaimana proses kelahiran seorang anak? Saya akan mulai dari bagaimana bayi itu mbrojol… soalnya kalau dimulai dari cara membuat bayi, maka tulisan ini akan menjadi tulisan porno. :D

Saya memang menulis dengan naïf proses ibu melahirkan, karena sebenarnya saya tidak pernah melihat wanita melahirkan (ibu hamil mana juga yang mau saya intip). Ketika ibu hamil hendak melahirkan, seharusnya terjadi konstraksi. Akibatnya, listrik di kepala ibu meningkat berlipat-lipat. Yah asal kalian tahu, yang menggerakan otak memang aliran-aliran listrik antar neuron. Semakin besar aliran listrik itu, semakin besar kinerja syaraf-syaraf yang ada di dalam otak. Si Ibu menjadi wanita super dalam beberapa menit. Sistem kerja otak dan kekuatan tubuhnya meningkat hingga 100 kali. Pada saat itu IQ nya sedang naik beberapa point. Mungkin kalau dia sedikit santai, soal matematika sulit pun akan mampu dijawabnya.

Apa yang anda bayangkan bila seorang wanita memiliki kekuatan otak dan fisik 100 kali lebih hebat? Yup… Penciuman, perabaan, dan semua indranya menjadi sangat sensitive. Listrik di dalam kepala memacu keluarnya hormone yang membantu persalinan. Hormone yang keluar secara sporadic ini adalah biang munculnya rasa sentimental yang tinggi. Perasaan sentimental telah membuat meaning tersendiri atas kelahiran bayinya. Inilah yang membuat ibu menjadi semakin sangat lekat dengan anaknya dikemudian hari.

Memory setelah melahirkan akan seperti black hole dalam kepala. Menghisap ingatan apapun disekitarnya. Pada saat itu, di dalam otak seorang ibu masih memiliki sisa energy yang besar pasca melahirkan. Bayangkan saja, kita mengingat dengan long term saja sudah tidak mungkin untuk dihapus, apalagi mengingat dengan kekuatan long term 50 kali lebih besar… Inilah dasar mengapa ikatan ibu akan anaknya selalu ada. Walau setelah dilahirkan anaknya harus diadopsi oleh orang lain, tetap ibu akan selalu mengingatnya. Bagaimanapun bejatnya perilaku anak nantinya seorang ibu selalu berharap anaknya akan kembali. Kalau ada ibu yang tidak memiliki ikatan dengan anaknya, saya pikir ada yang salah dalam hormonnya. Mungkin, dia wanita berhormon lelaki. “Wes metu anakku cuk?” kata ibu aneh yang baru saja melahirkan sambil mencukur bulu kakinya yang tumbuh lebat. HOWEVER, IBU TIDAK PERNAH MEMINTA UNTUK MENCINTAI ANAKNYA… TETAPI TUHAN YANG MEMBERINYA…-Happy mother day



Rabu, 05 Oktober 2011

BLACKBIRD


HISTORI

Blackbird sebenarnya mulai berdiri sejak tahun 2010 dan bertempat di Jl. Imam Bonjol pada awalnya. Sekitar akhir tahun 2010, Blackbird memutuskan untuk pindah dan merubah konsep yang semula mengusung konsep coffee and pancakes menjadi beers and grills. Namun, konsep inti Blackbird yang menekankan pada musik, terutama the Beatles, tidak dilupakan. Bahkan, nama Blackbird pun diambil dari judul lagu the Beatles di album double disc album yang biasa dikenal the White Album. Hanya saja, karena bergabung dengan grup Klampist, maka ada beberapa penyesuaian namun tidak mengubah konsep awal. Saat ini, Blackbird berada di Jl. Klampis Jaya 15 Surabaya, di samping Cosmic Joyhouse Surabaya.

KONSEP

Konsep Blackbird ini mengusung tema Beers and Grills dengan menonjolkan menu makanan dibandingkan beverages. Oleh karena itu, beverages yang ditawarkan masih berupa soft drink dan minuman dalam kemasan. Awalnya, konsep tempat ini menggunakan tema the Beatles- yang masuh dipertahankan hingga saat ini- namun ditambahkan dengan lagu-lagu dari genre lain. Tema the Beatles masih dipertahankan dalam nama-nama menu dan atribut-atribut seperti poster di dinding. video dan lagu yang diputar juga masih diselipi dengan lagu-lagu dari the Beatles atau dari solo karir para anggotanya.

Selain itu, di Blackbird sendiri yang ditonjolkan adalah activities dan obrolan akrab dari para pengunjungnya. Untuk ini, kami menerapkan pada ukuran meja, penempatan dan fasilitas yang disediakan. Seperti contohnya, tersedia fasilitas wifi, yang sepertinya sudah menjadi syarat dari eksistensi sebuah kafe. Namun, kami tidak menyediakan fasilitas wifi yang super duper kencang. Biasa saja, agar orang tidak hanya datang, duduk lalu bermaen facebook di laptop.

Di Klampist sendiri, salah satu yang membedakan dengan tempat lainnya adalah adanya mini ramps dan mini skatepark untuk fingerboard. Untuk latihan atau sekedar bermain, tidak ada charge khusus. Bebas aja. Di tempat yang lebih privat seperti ini, dapat dijadikan ajang pembelajaran bagi peminat skateboard ataupun fingerboard.

MENU

Original Burger with tasty meat. added cheese, then you’ll get cheese burger!

Ringo’s Fave. Chicken drumsticks, 4 drumsticks in each portion.

Sun King Bitterballen. Potatos mix with meat. 4 bitterballens in each portion.

Cheesy Sadie. Chicken breasts covered with cheese.

Tuna Burger. served from fresh tuna for non-meat lovers. (soon)

Chicken Burger. made from best chicken breast. (soon)

French Fries.

Wedges.

Lasagna

Klappertaart.

Varian Harga. 10ribu sampai 20ribu.

JAM BUKA

Minggu - Kamis 10 AM - 10 PM

Jumat - Sabtu 12 PM - 12 AM

Penjelasan McCartney tentang lagu Blackbird.

I had been doing poetry readings. I had been doing some in the last year or so because I've got a poetry book out called "Blackbird Singing", and when I would read Blackbird, I would always try and think of some explanation to tell the people, 'cause there's not a lot you can do except just read the poem, you know, you read 10 poems that takes about 10 minutes, almost. It's like, you've got to, just, do a bit more than that. So, I was doing explanations, and I actually just remembered why I'd written Blackbird, you know, that I'd been, I was in Scotland playing on my guitar, and I remembered this whole idea of "you were only waiting for this moment to arise" was about, you know, the black people's struggle in the southern states, and I was using the symbolism of a blackbird. It's not really about a blackbird whose wings are broken, you know, it's a bit more symbolic.

— Paul McCartney, Interview with KCRW's Chris Douridas, May 25, 2002 episode of New Ground (17:50 - 19:00)

Senin, 03 Oktober 2011

Genuine Genius by Bung Kucing

Guru bahasa Inggrisku seorang wanita lanjut usia. Memang saya sengaja milih nenek-nenek, karena kalau Sora Aoi beda lagi ceritanya. Satu hal yang saya ingat, senyumnya lebar sekali. Dan senyum itu selalu mengembang walau saya sering terlambat masuk kelas hingga 1 jam lamanya. Setiap hari kami berbicara ngalor ngidul, hingga akhirnya saya mulai terbiasa untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Halooo? Nah, kali ini saya tidak salah sambung… Karena biasanya banyak orang tidak menangkap apa yang saya inginkan. Guru les itu tahu sekali bahwa saya mencari materi tulisan bukan belajar untuk mengejar Toefl apalagi menjadi skateboarder seperti yang banyak dipikirkan orang.





Skateboard

Saya bukan skateboarder. Apalagi sampai kongkow-kongkow di lapangan hingga dini hari. Buat saya kesenangan bukan berasal dari kemampuan saya meloncati obstacle seperti layaknya cheetah di channel Animal Planet. Hidup indah itu ketika saya bisa berhubungan dengan diri saya sendiri secara intim (baik dengan kondom ataupun tidak). Baca buku, menulis, dan bermimpi. Mimpi saya bukan bermain skateboard dengan ribuan penonton di lapangan atau dengan gitar listrik yang menggerung di atas panggung besar. Mimpi saya sederhana, pengen jadi cenayang (mampu menulis cerita masa depan dari masa lalu hahaha…).

Saya tidak tertarik untuk belajar melakukan sebuah trick dengan papan skateboard, lalu mendengar semua penonton bertepuk tangan. Atau bahkan mencetak seorang juara agar bisa ikut naik ke atas podium dan turun panggung dengan para ABG yang bergelayutan di pundak seperti monyet dari Tanah Lot. Buat saya, skateboard seperti motor besar, skuter, dan mobil antik. Mereka mempunyai brand yang dikultuskan, seperti Independent, Harley Davidson, Vespa, Volkswagen, dll. Sebuah produk dengan ruh yang mampu membuat definisi budayanya sendiri. Sebuah brand yang akan didemo pecintanya bila ditutup karena pailit. Perkara dalam produk itu ada groupies ABG, uang, dan nama besar, saya tidak peduli.

Di jaman edan ini, skateboard hingga warung kopi sudah dirubah menjadi industry besar. Selalu ada pencitraan dan simbolisasi dibalik geliat bisnis. Semakin modern jaman, semakin gila pencitraannya. Tony Hawk dan Tony Alva adalah contoh hara-kiri pencitraan yang membuat skateboard laku layaknya kacang goreng. Tony Hawk atlet yang bisa membuat saya melongo sambil meneteskan air liur, tes, tes, ketes, ketes... Bayangkan, manusia bisa berputar-putar seperti gasing. Dan Tony alva adalah skateboarder yang bergaya seperti layaknya anak-anak alay… Seperti kata Jay Adams, “Alva try to compete with the sun to be the center of universe.” Alay sekali memang Tony Alva itu. Bahkan kalau kamu cermati secara etimologi… kata alay itu berasal dari Alva. Karena sewaktu acara Dahsyat di RCTI, Jay Adams memanggilnya “Hi, Tony Alay…” Dari situlah muncul istilah Alay. Biarlah, itu semua bagian dari industry entertainment. Ada atraksi dan ada pencitraan yang semuanya terangkum dalam sebuah sensasi.

Terus terang saja, saya menyukai skateboard, tapi tidak industrinya. Walaupun saya memiliki beberapa riders, saya tidak menjual produk seperti independent atau brand lain yang sangat loyal dengan budaya skateboard. Dan perusahaan saya bukanlah perusahaan cultural maker. Jadi, karena itulah, saya harus bekerja keras untuk melahirkan Skateboarder handal. Fungsinya buat apa? Hmmm… nanti saya kasih tau…

Banyak orang yang mengira bahwa saya berobsesi untuk menjadikan riders saya nomer satu sebagai jalan mengejar ketenaran dan uang. Untungnya tidak ada yang berpikir saya mengejar kepuasan seksual melalui riders-riders saya hahaha… Banyak orang yang berpikir bahwa saya mencintai Harley karena ingin mencari sensasi. Mungkin banyak juga orang yang berpikir saya memiliki beberapa gitar agar mampu bergaul dengan para musisi. Biarkan saja orang mikir apa, jawaban singkat saya... Tidak!





Menulis

Saya memang senang menulis semenjak beberapa tahun yang lalu. Ada satu ganjalan dalam kepala saya hingga saya harus melakukan banyak hal di luar menulis. Materi yang hendak ditulis menjadi sangat begitu penting buat saya. Dengan mohon maaf saya bercerita mengenai dua majalah yang sempat menjadi trend di kalangan anak muda untuk menjelaskan hal ini.

Buat saya, Hai adalah majalah yang sangat bagus di jamannya. Kalau tidak salah, Denny Sakrie yang membuat Hai semakin menjadi digilai dengan Haiklip nya. Ditambah dengan Hilman Hariwijaya dengan Lupusnya, Hai menjadi majalah juara WBA, WBC, dan IBF di dunia pergaulan.

Majalah kedua adalah Ripple. Menurut saya majalah indie ini adalah majalah dengan content yang fresh. Tulisannya pun bagus. Saya mengikuti majalah Ripple mulai edisi pertama hingga kini berubah menjadi majalah Tempo, tempo-tempo terbit tempo-tempo tidak. Banyak orang yang menyayangkannya. Tetapi, saya tidak menyayangkannya, karena bukan terbitnya Ripple yang jadi masalah utamanya.

Sebenarnya banyak sekali majalah yang mengalami hal sama seperti dua majalah itu. Satu yang saya garis bawahi, media kehilangan materi bagus untuk ditulis. Ripple melahirkan wartawan bagus dan idealis? Buat saya tidak… wartawan mereka bagus karena lahir dengan sejuta materi yang bagus pula dilingkungannya. Saya berani taruhan, bila seluruh wartawan Hai dan Ripple berkumpul menyatukan jumlah bacaan, jumlahnya tidak akan lebih dari bacaan yang saya punya (Intermezzo: tolong jangan pernah tanya saya, pernah baca ini atau nonton itu… saya lupa Cuk!! Iya klo bacaannya puluhan). Ini bukan masalah siapa yang banyak membaca sebenarnya, tetapi kenyataannya referensi bahasa terbesar memang didapat dari kebiasaan orang membaca.

Jadi menurut saya, kedua majalah itu turun kelas karena memang tidak ada lagi materi bagus untuk diulas. Semuanya sekarang bersifat instan dan tidak layak tulis. Ibaratnya, kalau yang masuk untuk diproses adalah sampah, yang keluar juga kemungkinan besar murahan. Buat apa orang membaca Haiklip sekarang bila kita bisa buka internet. Dan apa Denny sakrie mau mencari tahu tentang Sting atau Oasis via internet? Ngapainnn?? Kecuali dia memang hanya iseng mau mengadu kekuatan bandwidth internet sama anak-anak lulusan Binus sambil browsing tentang Metallica atau The Clash… haha… Dan sekarang pun Denny Sakrie sering masuk infotaiment untuk menjelaskan gejala Ayu Ting Ting hingga Shinta dan Jojo dalam acara yang kurang cerdas sama sekali.

Mau menulis seperti apa majalah Ripple, kalau anak mudanya sudah sibuk menghitung uang. Apa bagusnya majalah Ripple yang menulis tentang anak-anak muda yang sibuk duduk dipojok sambil menghitung untung. Mau menulis tentang pengusaha clothing indie yang bingung hendak membeli mobil apa tahun ini? Tulisan seperti itu hanya menginspirasi generasi berikutnya menjadi anak yang ingin kaya walau harus membunuh bakat terbaiknya. Sudah tidak ada lagi cerita tentang anak band yang berusaha dari bawah. Semua band indie kini berkembang melalui jalur festival. Tidak ada Feature tentang band yang manggung dari kota-ke kota menggunakan bis Damri. Mobil papa sekarang bisa dipakai.

Sedikit cerita saja… saya pernah disarankan untuk menulis tentang band metal lawas di Surabaya. Dan ketika interview berjalan, mereka pun memiliki gaya hidup yang biasa. Bekerja di pabrik Teh Botol atau sebagian lainnya mengajar gitar secara privat. Mereka hanya bermain band untuk menambah pemasukan dapur saja. Dalam otak saya… saya bodoh bila menulis ini. Tulisan tentang mereka akan bagus bila saya harus berbohong, itu solusinya. Akhirnya saya sadar betapa pentingnya kualitas materi.

Sebagai ilustrasi lagi. Belum lama ini saya membaca tulisan Romo Sindhunata, salah satu Romo terpintar dengan tulisan terbaik di Indonesia. Saya tercengang karena dia mengulas film Legion. Sebuah kisah tentang malaikat yang turun ke bumi. Menurut saya film itu sangat buruk sekali. Dan mohon maaf, tulisan Sindhunata akhir-akhir ini memang turun kualitasnya di mata saya. Sekali lagi saya tekankan bukan karena berkurangnya kehebatan Sindhunata, tetapi memang tidak ada film bagus yang layak dikutip. Mungkin dengan keterpaksaan, Romo Sindhu tidak mempunyai pilihan untuk mengulas film yang baik. Materi murahan memang sulit untuk dirubah menjadi mahal meskipun di tangan seorang Romo Sindhu.







Ngapain Main Skate

Beberapa tahun silam, saya mulai menyadari masalah ini. Kapitalis banyak membunuh asset untuk diperdagangkan. Semua menjadi instan hingga tidak layak untuk ditulis. Saya hanya berharap generasi berikutnya tidak terjebak dalam kumpulan sampah. Kita bersama-sama harus tetap mencari genuine-genuine jenius di bidangnya. Bukan untuk kita gagahi, tapi untuk kita tulis dalam kertas putih, catatan komputer, ataupun sekedar tercatat di dalam kepala saja.

Kegelisahan itu yang membuat saya mulai bergerak untuk menciptakan cerita dan moment bagus versi saya sendiri. Saya mulai mengurangi waktu untuk menulis. Saya mendorong anak muda untuk bermain music, bukan untuk memajukan dunia music. Saya mempunyai team skateboard bukan untuk menjadi terkenal. Saya mempunyai record pengemis dan budaya masyarakat miskin bukan karena saya ingin dipanggil professor. Itu semua hanya untuk menambah catatan materi tulisan saya. Saya mempunyai catatan tentang skateboarder pertama Surabaya yang menjadi amatir, saya mempunyai catatan tumbuh kembangnya komunitas fingerboard, hingga saya mempunyai catatan gaji para pengemis ‘profesional’ di Indonesia yang mempunyai Indomart dan rumah mewah. Tetapi itu semua masih belum lengkap. Pembaca tetap menunggu hadirnya tokoh superhero seperti Jay Adams, Van Gogh, anak-anak Hell Angel, dll. Yang mempertegas arti dedikasi di dalam tulisan saya.

Saya berharap suatu saat muncul orang jenius seperti Van Gogh yang layak ditulis, cerita tentang Hell Angel, atau kisah perjalan klasik dari para pecinta Volkwagen. Walau sejuta tawaran menggoda untuk memodifikasi dan merubah apa yang mereka cintai, tetap saja mereka mencintai bidangnya. Konsistensi yang membuat mereka selalu layak direkam dari waktu ke waktu. Lihat saja berapa banyak buku yang tertulis untuk Hell Angels dan Harleynya, atau coba datang ke Gramedia dan toko-toko buku import. Berapa banyak buku tentang VW? Walaupun memiliki Audi versi terbaru di garasi atau motor metik di dalam rumah, tetap saja si Genuine jenius tidak terlalu larut dalam godaan kapitalis yang semakin rakus. Mereka hanya butuh sedikit ruang untuk bernafas dan menggurat sejarah walaupun tidak harus terkenal. Mungkin hanya melakukan touring keliling Jawa tanpa pengawal atau menunggu musim kemarau agar kolam bisa berubah menjadi bowl… Itu cerita jujur tentang hasrat seseorang atas budaya.

Inilah yang membuat saya tidak tergoda untuk terlibat dalam perkumpulan anak Harley yang dendis, atau perkumpulan anak skateboard yang ‘keberatan’ merek pakaian. Apalagi penulis instant yang sibuk nongkrong di warung kopi KW bermerek Starbak. Menurut saya mereka tidak layak direkam. Karena saya percaya bahwa semua yang diproduksi secara instan hanya bersifat sementara.

Nah menjawab pertanyaan mengapa saya membuat team skateboard? Jawabanya, saya hanya mendorong riders saya untuk menang agar mereka dilirik oleh perusahaan luar. Kita berbicara masalah industry dan uang. Saya ingin teman-teman saya maju dan dihargai secara finansial. Itulah industry. Saya hanya ingin riders saya diurus oleh orang yang mampu. Karena dengan eksisnya para skateboarder di bidang industry, mungkin suatu saat, Jay Adams yang saya tunggu-tunggu akan datang dengan sendirinya untuk melengkapi materi tulisan saya. Karena itulah saya membuat team... Hanya berharap untuk materi tulisan yang lebih baik di masa depan. Kalau kalian bialng naif, terserah... yang jelas saya bukan David.







Kamis, 15 September 2011

dear amada asuka

this is a letter for you, asuka.
you know what? asuka is my fav character in Tekken actually :) she's smart, pretty and has beautiful eyes. Her name is Asuka Kazama, cousin of Jin Kazama-the protagonist character in Tekken (serine, kalo biasa kamu bilang). She's just like you perhaps. but you got longer haircut.
Eniwei, I've read all your tweets. well, almost. I dont have time to read it all. There's just one conclusion. You really love that man. Yess! that marriage man. Is it wrong? well, it'll depend on your perception of faith and karma :)
Actually, asuka, I would like to say that if you really think that he is the best for you, why dont you keep tryin to get him? Exception is only when you realize that he is just a coward man. a man that want to keep cheating rather than separated with his wife and get you in his arms. I guess this is the best suggestion from a friend, go get him.



Minggu, 12 Juni 2011

The End of Marriage

Kemarin,teman saya bercerita panjang lebar tentang kehidupan pernikahan dan perceraian. Padahal dia belum menikah. Kawin uda bolak balik, katanya. Okey, saya percaya itu. Ha!

Awalnya saya tertarik dengan banyaknya perceraian yang terjadi bahkan pada tokoh2 nasional nan terkenal. Sebut saja Aa Gym,Krisdayanti Anang,Maia Dhani, dll. Apa yang terlihat sepertinya tidak mungkin berpisah, ternyata ya kejadian. Entah apa alasannya, bisa beragam tapi menurut saya bisa diselesaikan. Jika memang masih ada komitmen berkeluarga.
Dan nyatanya, di kehidupan nyata, di sekitar saya, juga banyak terjadi yang seperti itu. Banyak yang susah mempertahankan, di badai pertama kehidupan rumah tangga itu. Ada yang ga jelas alasannya, ada yang karena KDRT, ada yang karena orang ketiga, ada yang karena ga segera punya anak, ada yang katanya kurang perhatiin keluarga, ada yang karena sexnya kurang cihuy, dsb. Yang pada dasarnya, banyak alasan menuju perceraian karena hilangnya komitmen.
Nah, si komitmen ini kemana yah?
Pas pacaran awal-awal, semua tuh kerasa menyenangkan. Passionate love, merujuk judul skripsi istri saya #eh. Pokoknya menggebu2lah. Tai kucing berasa toblerone. Eh, semakin kesini, kayaknya mimpi dijemput pangeran berkuda yang romantis uda ga ada deh. Uda companion love. Bukan cinta yang penuh gairah lagi. Jangankan romantis, bangun pagi aja kadang2 musti disiram seember aer. Hehehe. Sarapan juga tinggal minta pembantu. Kopi tinggal teriak ke si bibik. Normal aja semuanya. Biasa-biasa aja. Sampai suatu hari..
"Uda deh! Kalo kayak gini terus, ga ada perubahan, mending kita pisah aja!"
*glek*
"Errr..bisa ga diomongin dulu,masalahnya apa?"
"wes ga usa. Kesuwen. Pokoknya aku mau kita pisah! Titik!"
"titik ato tanda seru?"
"Mas!"
"Dik!"
"Aku serius ini"
"Aku duaa.."
"Stop! Kalo uda ga mau diajak ngomong ya uda! Ga usa ngomong sekalian! Huh!" *ngelewes ngalih*
"Jare maeng kesuwen,ga usa ngobrol..piye to?" *cuman bisa ngedumel*

So?apa masalahnya sebenarnya?
Komitmen.
Pada awalnya, berumah tangga itu berusaha membentuk komitmen. Mencoba berkata iya dan tidak dari satu pikiran. Mencoba mengatasi dan berkompromi dengan perbedaan-perbedaan. Mencoba berkomitmen, "kalo ada masalah kita cari bersama-sama yah solusinya". Tidak ada lagi aku dan kamu, hanya kita. Kedengarannya gampang yah?:)
Nyatanya tidak.
Balik lagi ke sifat dasar manusia, ga ada kata puas. Selalu adaaaa aja id berusaha memenuhi kebutuhannya. Diperparah lagi dengan minimnya komunikasi. Satu-satunya komunikasi hanya di ranjang. Selebihnya cuman chit chat biasa yang biasanya dilakukan lewat device-device canggih kayak "Lagi dimana?", "Uda makan belum?" dan laen-laen yang menurut saya sebenarnya penting, tapi bukan utama. Sama kayak bikin usaha, rencanakan dengan jelas, bikin target, evaluasi kendalanya.
Yang terjadi biasanya adalah, dimabuk cinta di awal pernikahan. Jadi kurang rasional waktu menyikapi segala sesuatunya. Masalah yang ada dianggap angin lalu dan dikompromikan tanpa ada komitmen untuk antisipasi ke depannya. Benernya, pria sudah ditakdirkan menjadi pemimpin. Kepala rumah tangga. Nahkoda perahu layar. Wanita menginginkan posisi yang setara? Bisa saja diterapkan pada beberapa hal. Tapi kebanyakan, wanita juga akan menyerahkan keputusan kepada sang suami. Tapi seringkali, respon suami hanya manggut2 setuju padahal aslinya ga ngerti. Aslinya ga setuju. Tapi demi istri, boleh deh. Lalu virus ini makin lama makin menggerogoti. Lebih dalam dan lebih luas. Tapi masih bergerak di alam bawah sadar. Bisa jadi ada suami yang maen tangan dalam menyelesaikan masalah. Mungkin karena sikap kurang percaya dirinya. Mungkin karena merasa kurang kompeten sebagai suami. Ngasi nafkah kurang ato di ranjang yahud, bisa jadi dengan maen tangan dia ngerasa jadi superior. Ato bisa juga ada istri yang karena tidak betah di rumah, memutuskan mencari kesibukan dan kesenangan di luar. Istri yang ngalami kesulitan waktu untuk mengurus anak lalu memilih pergi bersenang-senang aja sekalian. Apalagi jika ditunjang adanya peer group yang satu visi. Lupakan komitmen, yang penting saya senang! Saya menang! Ato karena tuntutan untuk cari duit banyak, suami kerja keras, cari uang, sukses ujung-ujungnya maen cewe dengan banyak dalih. Ini memang masalah yang banyak dialami di kehidupan modern. Ujung-ujungnya merasa lebih baik berpisah.
Lalu masalah berkembang semakin luas, tanpa disadari masalahnya apa. Banyak kompromi-kompromi baru muncul, yang ujung-ujungnya ga menyelesaikan masalah. Tetep aja cerai. Dan model seperti ini saya jumpai pada bibik di rumah, yang uda kawin cerai 3 kali. Wew! Jangan tanya masalahnya apa. Kalo situ mau dengerin curcolnya si bibik, uda, langsung aja ke rumah, tanyain. Hihihi. Ga tau deh dia uda berkompromi apa aja, tapi dari kuantitas kawin cerai nya, mungkin emang banyak kebutuhannya yang ga terpenuhi.
Dalam kehidupan rumah tangga, pertama kali yang musti dilakuin adalah menetapkan komitmen. Ga cukup hanya modal surat nikah beb! Bicarakanlah semua kemungkinan. Susunlah rencana yang jelas buat hidup bersama karena sudah tidak ada lagi aku dan kamu. Berjalan sebagai kita itu sangat sulit. Kadang, sebagai kita, suami dapat berpikir,"Ah, dia tau kok maksud saya". Demikian pula sebaliknya. Kata seorang kawan,"pahamilah, bukan dibiarkan". Makanya, coba cari tau apa yang jadi kebutuhan pasangan. Dan itu ga gampang.
Terbukalah atas semua masukan. Ketika ada ribut-ribut kecil, selesaikan secara mandiri. Bicara dengan orang lain dan yang tidak tepat malah cuma bikin masalah semakin melebar dan ga menyelesaikan masalah. Biasakanlah bersikap terbuka pada pasangan. Jujur itu penting saat belum bohong. Kalo uda bohong, ketauan, lalu mencoba jujur, itu sama aja kayak menggarami luka. Periiiiiihhhh brooo..
Pertanyaannya adalah, kalo uda cerai, lalu ngaaaaapaaaaiiiin? Kalo setelah cerai lalu hubungan jadi lebih bagus, sama-sama produktif di karir, that's greeeatt. Lha kalo cuma sebagai tameng menyelesaikan masalah, buat apa? Inilah yang seharusnya diamati oleh lembaga hukum yang menangani perceraian. Mediasi yang dilakukan mustinya dilakukan oleh seorang psikolog ahli di bidang konseling pernikahan. Jadi, bukan hanya mediasi abal-abal yang cuma setelah dua kali tahap mediasi, ga ada yang sepakat, akhirnya cerai.
Mungkin sebagian orang menilai tulisan ini munafik. Apakah saya orang yang sukses menata rumah tangga saya? Saya tidak bisa bilang apa-apa, karena kesuksesan rumah tangga ukurannya bukan cuma berhasil melewati tahun-tahun bersama. Tapi pencapaian visi sejak awal, itu yang penting. Maap kalo kemoncolen. Tulisan ini cuma hasil evaluasi hidup saya sendiri dan obrolan mendalam dengan sahabat saya. Tujuannya cuma ngingetin kita semua, apa tujuan menikah. Yang jelas bukan cuma sex. Rite? ;)